Time


Showing posts with label Japan Info Share. Show all posts
Showing posts with label Japan Info Share. Show all posts

Wednesday, January 14, 2009

Shitte Iruka? (Did You Know?)

Biasanya kalian bingung atau tidak tau pengetahuan umum tentang Jepang khan??? berikut kami jelaskan segelintir yang ada di Jepang…

Seinjinshiki

Adalah perayaan yang diadakan oleh para muda mudi untuk menyambut umur ke 20 mereka. Umur 20 merupakan umur kedewasaan, karena para muda mudi sudah mempunyai hak kewarga-negaraan dan mengeluarkan pendapat. Biasanya para gadis memakai kimono dan berfoto bersama untuk mengabadikan peristiwa itu.

Koinobori

Festival yang dikhususkan bagi keluarga yang mempunyai anak laki-laki. Diadakan setiap tanggal 5 Mei. Keluarga yang mempunyai anak laki-laki mengibarkan bendera berbentuk ikan karper di luar rumah, juga memajang seperangkat boneka samurai dengan baju zirah dan pedang di dalam rumah sebagai lambang kekuatan.

Haru no Higan

“HIGAN” musim semi ini berlangsung sekitar tanggal 21 Maret setiap tahun. Banyak orang mengunjungi makan keluarga untuk berdoa bagi arwah leluhur yang telah meninggal.

Hanami(Pesta menikmati sakura)

Biasanya dilakukan pada akhir Maret/awal April. Waktu bunga Sakura bermekaran di pohonnya berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lainnya, di mulai dari daerah paling selatan. Dengan demikian pesta memandang dan menikmati Sakura juga berlainan waktunya. Banyak rombongan yang berpiknik di bawah pohon.

Hinamatsuri

Disebut juga FESTIVAL BONEKA, diadakan setiap tanggal 3 Maret. Keluarga yang mempunyai anak perempuan memajang boneka boneka keluarga istana dan merayakan pesta. Semua anak perempuan memakai kimono dan berkumpul didepan rak boneka sambil makan kue khas ‘hoshimochi, arare’, dll.

Oshogatsu

Ganjitsu (tanggal 1 Januari, hari pertama dalam 1 tahun) dirayakan di Jepang sebagai hari raya tahun baru. Pada umumnya selama 3 hari berturut-turut orang Jepang tidak bekerja. Awal tahun baru ini disebut oshogatsu. Selama hari hari tersebut orang Jepang mengunjungi kuil Shinto, dan juga saling mengunjungi sanak saudara. Para wanita memakai kimono yang berwarna warni, dan bersama keluarga minum sake (arak Jepang), makan makanan khusus tahun baru yang disebut ‘osechi ryoori’. Didepan rumah rumah dipajang potongan pinus dalam pot dengan 3 batang bambu runcing. Hiasan ini disebut KADOMATSU.

Setsubun

Upacara Setsubun berlangsung pada tanggal 3 atau 4 Februari. Pada senja menjelang malam, pintu rumah dibuka dan orang menyeraki butiran-butiran kacang kedelai panggang kesegenap penjuru rumh. Konon hal itu dilakukan untuk mengusir roh jahat.

Amaterasu Omikami

Merupakan dewi yang paling penting diantara dewa-dewi dalam mitologi kepercayaan Jepang. Amaterasu artinya ‘bersinar di surga‘ merupakan Dewi Matahari. Kaisar Jepang dipercaya merupakan keturunan langsung Dewi Matahari ini.

Yuki(Salju)

Di Jepang khususnya Hokkaido dan Tohoku turun salju pada musim dingin. Meskipun dingin, tapi anak anak di Jepang sangat suka salju, mereka membuat boneka salju (Yukidaruma) atau kelinci salju (Yukiusagi) dan main perang perangan dengan bola salju (Yukigassen). Ski adalah olahraga yang digemari anak anak sampai manula pada waktu musim dingin tiba.

Tuesday, January 13, 2009

Cosplay

By: Cedrick Kinnison

Mungkin kalian uda tau ya yang namanya cosplay itu adalah meniru kostum dan sifat seseorang yang terkenal spt artis etc/tokoh anime/game dsb, tapi dibalik itu semua cosplay ga hanya main kostum aja trus udah gitu thok, namun ada hal hal lain yang perlu diperhatikan, mari kita ulas!!!

Cosplay (コスプレ Kosupure?) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (Wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata “costume” (kostum) dan “play” (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, permainan video, atau penyanyi dan musisi idola. Pelaku cosplay disebut cosplayer, Di kalangan penggemar, cosplayer juga disingkat sebagai layer.

Cosplay mengenakan kostum grup musik Malice Mizer

Cosplay mengenakan kostum grup musik Malice Mizer

Di Jepang, peserta cosplay bisa dijumpai dalam acara yang diadakan perkumpulan sesama penggemar (dōjin circle), seperti Comic Market, atau menghadiri konser dari grup musik yang bergenre visual kei. Penggemar cosplay termasuk cosplayer maupun bukan cosplayer sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, yaitu Amerika, RRC, Eropa, Filipina, maupun Indonesia.

Sejarah

Sejak paruh kedua tahun 1960-an, penggemar cerita dan film fiksi ilmiah di Amerika Serikat sering mengadakan konvensi fiksi ilmiah. Peserta konvensi mengenakan kostum seperti yang yang dikenakan tokoh-tokoh film fiksi ilmiah seperti Star Trek. Budaya Amerika Serikat sejak dulu mengenal bentuk-bentuk pesta topeng (masquerade) seperti dalam perayaan Haloween dan Paskah.[1]

Cosplay di distrik Harajuku, Tokyo

Cosplay di distrik Harajuku, Tokyo

Tradisi penyelenggaraan konvensi fiksi ilmiah sampai ke Jepang pada dekade 1970-an dalam bentuk acara peragaan kostum (costume show).[2] Di Jepang, peragaan “cosplay” pertama kali dilangsungkan tahun 1978 di Ashinoko, Prefektur Kanagawa dalam bentuk pesta topeng konvensi fiksi ilmiah Nihon SF Taikai ke-17. Kritikus fiksi ilmiah Mari Kotani menghadiri konvensi dengan mengenakan kostum seperti tokoh dalam gambar sampul cerita A Fighting Man of Mars karya Edgar Rice Burroughs. Tidak hanya Mari Kotani menghadiri Nihon SF Taikai sambil ber-cosplay. Direktur perusahaan animasi Gainax, Yasuhiro Takeda memakai kostum tokoh Star Wars.

Pada waktu itu, peserta konvensi menyangka Mari Kotani mengenakan kostum tokoh manga Triton of the Sea karya Osamu Tezuka. Kotani sendiri tidak berusaha keras membantahnya, sehingga media massa sering menulis kostum Triton of the Sea sebagai kostum cosplay pertama yang dikenakan di Jepang. Selanjutnya, kontes cosplay dijadikan acara tetap sejak Nihon SF Taikai ke-19 tahun 1980. Peserta mengenakan kostum Superman, Atom Boy, serta tokoh dalam Toki o Kakeru Shōjo dan film Virus. Selain di Comic Market, acara cosplay menjadi semakin sering diadakan dalam acara pameran dōjinshi dan pertemuan penggemar fiksi ilmiah di Jepang.

Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitandōjinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980. Edisi tersebut memuat berita khusus tentang munculnya kelompok anak muda yang disebut “Tominoko-zoku” ber-cosplay di kawasan Harajuku dengan mengenakan kostum baju bergerak Gundam. Kelompok “Tominoko-zoku” dikabarkan muncul sebagai tandingan bagi Takenoko-zoku (kelompok anak muda berpakaian aneh yang waktu itu meramaikan kawasan Harajuku). Istilah “Tominoko-zoku” diambil dari nama sutradara film animasi Gundam, Yoshiyuki Tomino, dan sekaligus merupakan parodi dari istilah Takenoko-zoku. Foto peserta cosplay yang menari-nari sambil mengenakan kostum robot Gundam juga ikut dimuat. Walaupun sebenarnya artikel tentang Tominoko-zoku hanya dimaksudkan untuk mencari sensasi, artikel tersebut berhasil menjadikan “cosplay” sebagai istilah umum di kalangan penggemar anime.

Sebelum istilah cosplay digunakan oleh media massa elektronik, asisten penyiar Minky Yasu sudah sering melakukan cosplay. Kostum tokoh Minky Momo sering dikenakan Minky Yasu dalam acara temu darat mami no RADI-karu communication yang disiarkan antara lain oleh Radio Tōkai sejak tahun 1984. Selanjutnya, acara radio yang sama mulai mengadakan kontes cosplay. Dari tahun 1989 hingga 1995, di tv asahi ditayangkan ranking kostum cosplay yang sedang populer dalam acara Hanakin Data Land.

Sekitar tahun 1985, hobi cosplay semakin meluas di Jepang karena cosplay telah menjadi sesuatu hal yang mudah dilakukan. Pada waktu itu kebetulan tokoh Kapten Tsubasa sedang populer, dan hanya dengan kaus T-shirt pemain bola Kapten Tsubasa, orang sudah bisa “ber-cosplay“. Kegiatan cosplay dikabarkan mulai menjadi kegiatan berkelompok sejak tahun 1986. Sejak itu pula mulai bermunculan fotografer amatir (disebut Kamera-kozō) yang senang memotret kegiatan cosplay.

Sunday, January 11, 2009

Japan Share

Amaterasu (天照?), Amaterasu-ōmikami (天照大神 / 天照大御神?) or Ōhiru-menomuchi-no-kami (大日孁貴神?) is in Japanese mythology a sun goddess and perhaps the most important Shinto deity ( kami?). Her name, Amaterasu, means literally “(that which) illuminates Heaven”. She was born from the left eye of Izanagi as he purified himself in a river and went on to become the ruler of the Higher Celestial Plain (Takamagahara).

She is also said to be directly linked in lineage to the Imperial Household of Japan and the Emperor, who are considered descendants of the kami themselves.

The Sun goddess emerging out of a cave, bringing sunlight back to the universe.
The Sun goddess emerging out of a cave, bringing sunlight back to the universe.

History

Story of Amaterasu

Amaterasu is described in the Kojiki as the sun goddess who was born from Izanagi, who was also accompanied by her siblings Susano’o, the storm deity, and Tsukuyomi, the moon deity. In the Kojiki, Amaterasu is described as the goddess from which all light emanates and is often referred to as the sun goddess because of her warmth and compassion for the people who worshipped her. Some other myths state that Amaterasu was born from water.

Most of her myths revolve around an incident where the goddess traps herself in a cave because of her brother’s actions. For a while, everything amongst the three revered gods was peaceful and all of the world ran smoothly. One day, Susano’o, in a drunken rampage, trampled Amaterasu’s rice fields, filled all of her irrigation ditches, and threw excrement into her palace and her shrines. The Omikami asked her brother to stop but he ignored her and even went so far as to throw the corpse of a skinned horse at her hand-maidens who were weaving at the time. The women were killed by the wood breaking apart and piercing their bodies (in the Kojiki it was their reproductive organs that were pierced[1]).

Amaterasu was greatly angered and in protest she shut herself in the Heavenly Cave and sealed it shut with a giant rock. As a result, the world was consumed with darkness. Without her, everything began to wither and die. Eight million Kami gathered in front of her cave and devised a way to lure her out. They all sat around the cave and set up a mirror across from the entrance. Ame-no-Uzume, the voluptuous goddess of merriment turned over a wash-tub and began a sensual dance, tapping the beat on the tub. She exposed her breasts and lifted her skirts as she danced. All of the gods made a great noise of yelling and cheering and laughing. Amaterasu peeked out to see what the noise was about. She asked the nearest god what was going on and he replied that there was a new goddess. When Amaterasu asked where she was, he pointed to the mirror.

The Omikami had never seen herself before and when she caught her reflection, she stared at the radiance of her own form. She was so surprised she said “omo-shiroi”, which means both “white face,” which the Omikami had, and “fascinating”. When she was out of the way, Tajikara-O shut the rock behind her. Having lured her out of the cave, the gods convinced her to go back into the Celestial Plain and all life began to grow again and become strong in her light. Once back in the Celestial Plain, she made sure that she was ready for her brother’s harsh actions again by having a bow and quiver at her side.

Torii at the Ama-no-Iwato Shrine in Takachiho, Miyazaki Prefecture

Torii at the Ama-no-Iwato Shrine in Takachiho, Miyazaki Prefecture

Later she sent her grandson Ninigi-no-Mikoto to pacify Japan: his great-grandson became the first emperor, Emperor Jimmu. He had a sacred sword (Kusanagi), jewel (Yasakani no magatama), and mirror (Yata no kagami) that became the Japanese imperial regalia.

Amaterasu is credited with inventing the cultivation of rice and wheat, use of silkworms, and weaving with a loom.

Kukai famously linked Amaterasu with Dainichi Nyorai, a central manifestation of the Buddha, whose name is literally “Great Sun Buddha”. Thus Amaterasu is held as an divine Emanation of Buddha Vairocana.

Her most important shrine, the Grand Shrine of Ise, is in Ise in western Honshū. The shrine is torn down and rebuilt every 20 years. In that shrine she is represented as a mirror, one of the three Japanese imperial regalia. The Ise Shrine is said to be the home of Amaterasu. This shrine, however, is not open to the public.

She is celebrated every July 17 with street processions all over the country. Festivities on December 21, the winter solstice, celebrate her coming out of the cave.

Difference between Kojiki and Nihonshoki

In Kojiki and Nihonshoki, the goddess was described with slight difference. Mainly, the story of Kojiki is much better known.

First is the story of her birth. In Kojiki she was born after Izanagi failed to retrieve Izanami from Yomi. However, in Nihonshoki, Izanagi and Izanami, who was still alive, together decided to create the supreme deity to reign over the world, and gave birth to Amaterasu.

The episode of sending her grandson to Ashihara no Nakatsukuni (Japan) is also different in two myths. In Kojiki, Amaterasu commanded her son and other gods to pacify Japan. On the other hand, the main article of Nihonshoki records the myth that it was Takamimusubi-no-Kami who took control of the event and sent his maternal grandson Ninigi to Japan. The role of Amaterasu is ambiguous in the episode.

In both cases, Nihonshoki records similar version of Kojiki episode as “aru-fumi”, the alternative episode.

The goddess and the Imperial family

In 1946, Emperor Shōwa was forced in the Ningen-sengen to renounce the conception of akitsumikami (現御神?), divinity in human form, and claimed his relation to the people did not rely on such a mythological idea but on a historically developed family-like reliance.

Many authors, such as John W. Dower and Herbert Bix, consider however that by choosing the word akitsumikami (現御神?) instead of arahitogami, Hirohito didn’t actually deny his divine descent from goddess Amaterasu Omikami.

Amaterasu in popular culture

  • Amaterasu appeared as a character in the 2003 film Onmyoji II, played by Kyōko Fukada.
  • In the video game Ōkami, the main character is Amaterasu incarnated as a wolf, and is constantly referred to as “origin of all that is good and mother to us all.”
  • In Dream Saga Amaterasu is to be consumed by the nature’s dragon Susanoo in order to wipe out humanity and let the world be reborn.

By: Cedrick Kinnison

CONBINI

Kita sering menemukan istilah “Conbini” yang diucapkan dalam film ataupun komik Jepang. Bagi yang belum tahu, istilah “Conbini” adalah sebutan untuk toko kelontong modern yang tersebar di seluruh pelosok Jepang. Asal katanya adalah dari “Convenience Store”, yang kemudian dipersingkat agar sesuai dengan cara pengucapan orang Jepang, hingga menjadi “Conbini”. Conbini memang merupakan adaptasi modernitas Barat di negara jepang yang mulai masuk pada tahun 1969, tentunya untuk menambah kenyamanan dan kepraktisan masyarakat soal pemenuhan kebutuhan hidup.

Bicara soal toko kelontong, jangan keburu membayangkan toko kelontong modern ini tak beda dengan mini market yang banyak di Indonesia. Dalam beberapa hal memang ada kemiripan antara mini market di Indonesia dengan di Jepang, tapi lebih dari itu, sebetulnya lebih banyak juga perbedaannya. Bahkan kalau sudah tahu bagaimana conbini itu, pasti akan berbikir alangkah enaknya jika mini market di Indonesia betul betul menerapkan metode conbini di Jepang! yang membuat conbini sama seperti mini market di Indonesia dan di negara lainnya, hanya pada sistem waralaba(franchise) yang diadopsi dari negara asalnya: Amerika Serikat. Contohnya seperti: Seven-Eleven,Lawson, atau AMPM. Tapi yang membuatnya berbeda… nah, ini banyak mulai kita bahas satu per satu.

Yang pertama adalah jumlahnya yang cukup banyak. Dalam radius sekitar per 500 meter di Jepang, kita bisa dengan mudah menjumpai sebuah conbini. Berdasarkan sebuah survey penelitian tentang conbini di Jepang, memang dapat disimpulkan bahwa rata rata ada sebuah conbini untuk setiap 3.400 orang penduduk. Tentu kita jadi berpikir, apakah dengan begitu banyaknya conbini, antara satu dengan yang lain tidak bersaing ketat dan ada yang kekurangan pembeli? Tentu saja mereka bersaing, tapi masing masing conbini ternyata memiliki keunikannya tersendiri. Ini pula gambaran persaingan sehat yang dicitrakan oleh masyarakat jepang. Contohnya, nih… satu conbini mengisi 80% tokonya dengan bahan makanan mentah untuk sehari hari, sementara conbini lain di dekatnya mengisi tokonya dengan produk makanan kemasan siap santap (bento). Ada pula conbini yang lebih banyak menyediakan snack, permen, atau rokok; conbini khusus yang menjual berbagai keperluan wanita, bahkan conbini khusus bagi mereka yang berdiet. hal itulah yang membuat tidak ada conbini yang sangat sepi karena kekurangan pembeli.

Perbedaan lainnya adalah sistem POS (Point Of Sales) yang khusus hanya diterapkan oleh conbini di Jepang. Cara kerja sistem ini sebagai berikut: di mesin kasir dalam conbini terhubung dengan jaringan komputer di pusat waralaba. Saat pembeli membayar belanjaannya, petugas kasir menekan tombol di mesin untuk mengidentifikasi jenis kelamin konsumen, kisaran kelompok umurnya dan produk apa yang dibelinya. Dengan cara ini, data konsumen berhubungan dengan golongan produk tersebut. Misalnya: pria pelajar, umur sekitar 17 tahun, membeli snack A. Data ini disimpan dan dianalisa dalam beberapa periode. Hasil yang telah terkumpul dapat membuat pemilik waralaba conbini:

1. Menyempurnakan jadwal pengiriman produk ke setiap toko

2. Mengidentifikasi produk produk mana yang banyak terjual di toko pada lokasi tertentu

3. Mengembangkan produk baru yang diprediksi bisa laku terjual

Hal ini membuat conbini di Jepang menjadi mini market paling efisien di seluruh dunia.

Keunggulan conbini lainnya tentu saja soal kebersihannya! Penduduk Jepang yang sangat tertib soal kebersihan ini tentu bisa malas mengunjungi conbini yang lantainya kecoklatan karena kurang di-pel; misalnya. Selain itu, jangan lupakan mesin ATM dan jidouhanbaiki/Vending-Machine yang selalu nagkring di setiap conbini! Sistem pembelian barang dengan cara ini memudahkan pembeli yang (misalnya) Indin membeli CD, namun rumahnya jauh dari mall. Tinggal pergi ke conbini terdekat, menyentuhkan jari ke layar touch-screen pada mesin, lalu kamu bisa membeli/memesan CD yang kamu inginkan. Kamu juga bisa membeli komik, bahkan perangkat komputer, lho!

Untuk barang barang “besar” seperti membeli CD atau komputer, pembayaran dilakukan dengan kartu kredit atau transfer dari rekening sejumlah harga barang tersebut. Paling lama dalam 5 hari (jika kamu tinggal di Jepang), maka barang yang kamu pesan sudah datang! Tapi jika hanya membeli komik atau rokok, kamu bisa membayar tunai ke dalam mesin tersebut. Namun patut diketahui juga, bahwa pemerintah Jepang cukup ketat mengawasi penjualan rokok, minuman keras maupun komik dewasa. Jika kamu belum menginjak batas usia yang di tentukan (dengan menunjukkan kartu identitas yang akan di scan oleh si mesin), jangan harap kamu bisa membeli benda benda tersebut dengan bebas! Ada juga conbini yang menyediakan mesin diagnosa kesehatan, khususnya di conbini bagi orang orang yang berdiet sehat. Benar benar praktis!

Faktor kesegaran produk yang dijual tentunya juga menjadi perhatian utama conbini conbini di jepang. jangan cemas membeli bahan makanan yang sudah kadaluwarsa! Untuk makanan siap saji yang bisa bertahan agak lama, biasanya conbini membekukan betul bahan makanan tersebut, dan baru dicairkan hanya bila ada pembelinya. Untuk bahan makanan segar seperti daging dan sayuran yang harus dimasak dan dikonsumsi secepatnya, waralaba conbini mendapat pasokan dari sumbernya langsung. Jika bahan makanan mentah itu tidakk habis terjual, langsung dibuang dan dijadikan kompos. Jadi tidak ada bahan makanan mentah yang disimpan sampai berhari hari.

Pelayanan yang ramah dan jaminan kepraktisan, kebersihan serta keamanan juga menambah nilai plus bagi conbini di Jepang. Kalangan karyawan yang pulang malam dan tak sempat memasak makanan, tinggal pergi ke conbini (yang umumnya buka 24 jam) dan membeli bento untuk langsung dimakan di rumah. Anak anak yang sering ditinggal sendiri di rumah karena orangtuanya bekerja, dapat pula menjadikan conbini sebagai tempat pelarian untuk berlindung bila merasa terancam keselamatannya. Ini berkat peraturan Dewan Pencegahan Kejahatan Dalam Conbini yang menunjuk beberapa conbini sebagai tempat darurat bagi perlindungan anak anak. Peraturan ini berlaku sejak Agustus 2001. Bagi orang Jepang, conbini sangat membantu dalam keseharian hidup. Makannya, nggak salah ‘kan, kalau sekali mengenal conbini, kita pasti berandai-andai kalau mini market di negara kita ini seperti conbini di Jepang!

Now Playing

BACK-ON - Fly Away(Single) 2009




Lyric


*Saa ryoute hiroge ano kumo wokoete
Niji no achi kugette mezasu basho he, flyaway
(Mukai kaze datte deka i kabe datte oikaze matotte Mezasu basho he)
Kimi gasobaniirukara

I held your hand cuz you said
Take you to the shining place from a maze

Kun wo shinji te dasono te atataka
Kute mistu merusono hitomi nikumorihanakute
Tsumikasane ta omoi ga kare ta daichi ni oto shita namida
Hitotsubu no shizuku ga hirogatte shoku toridorino hana wo saka shiteku

Tsuyoga rino naifu wo furimawashi te
Kizutsu kete kizutsu kete kurayami de saken deta

(Repeat*)

Toritachi oikaze ni notte hana tachi haazayakani sai te
It's a beautiful world imamade to chigau
Tomo ru koto naku sekai ha mawaru
Hitori mitsu metetanda boya kete fuukei
My clock has begun to work again
Kuno gasotto te wo nobashi te hikari tera su sekai no naku he

Itsuwari nonai ashita mitsu ketakute
Zenryoku de hane bataite
Kagayaku kun no moto he

Ima hikari tera su ano sora no hate he
Kun no te wo tsukan de hanasanai youni, flyaway
(Mukai kaze datte deka i kabe datte oikaze matotte Mezazu basho he)
Boku gasobaniirukara

Tsuyoga rino naifu wo furimawashi te
Kizutsu kete kizutsu kete kurayami de saken deta